[]
 
Instiution and Science Unite
Bahagia Itu Sederhana. Cukup Temukan Keinginan Terbesar (Rio Wibowo)

Senin, 25 Maret 2019 20:40 WIB

Artikel ini sengaja ditulis dengan tujuan untuk berbagi pengalaman bagaimana saya bisa merasakan kebahagiaan walaupun pada tahun sebelumnya (2018) merasa depresi dan bahkan tahun sebelumnya lagi (2017) merasakan depresi yang lebih parah.


Sebagai disclaimer aja nih ya, artikel ini tidak berdasarkan teori filsafat ataupun teori neurologi karena artikel dibuat berdasarkan pengalaman pribadi dan mungkin saja apa yang saya lakukan untuk keluar dari zona depresi tidak bisa anda aplikasikan di kehidupan anda karena pengalaman hidup yang berbeda.


Perjalanan hidup saya dimulai sekitar pertengahan tahun 2015. Waktu itu saya memutuskan untuk drop-out dari kuliah (kenapa saya memutuskan drop-out kuliah) dan mulai mendirikan start-up digital.
Waktu itu aplikasi yang saya buat adalah sosial media berbagi foto yang berbasiskan lokasi, jadi cara kerjanya adalah seperti ini. Misal saya sedang berada di Melbourne, Australia, otomatis feed saya berisi postingan tentang hal-hal yang ada di Melbourne, misal postingan sebuah restoran atau event yang ada di Melbourne hari itu.
Singkat cerita, saya tidak bisa melanjutkan karena waktu itu saya tidak punya tim dan merasa kewalahan untuk mengembangkannya.


Kemudian saya membuat startup lagi yang lain, kali ini saya berhasil mengajak seorang teman untuk bergabung, namun lagi-lagi saya merasa kewalahan karena saya tidak tahu cara memasarkan produk startup saya bagaimana.
Hingga pada akhirnya pada tahun 2017 saya mulai merasakan depresi karena saya belum menghasilkan apa-apa secara materi selama 2 tahun dan orang-orang mulai menyakan kapasitas dan kapabilitas saya ditambah lagi pada tahun tersebut ada permasalahan yang cukup berat buat saya, depresi saya tambah menjadi-jadi. Dan akhirnya 2018 pun datang, lembaran baru dalam hidup saya pun juga baru.


Pada tahun 2018 saya memutuskan untuk membuat bisnis non startup digital, namun lagi-lagi ternyata saya merasakan kesulitan untuk mengelola tim ditambah lagi kondisi finansial yang kurang mendukung.
Selama saya drop-out (2015) hingga akhir tahun 2018, saya selalu di supply oleh orang tua saya untuk urusan finansial namun pada akhir tahun 2018 saya berpikir “saya tidak bisa dibantu oleh orang tua saya terus-terusan untuk urusan bisnis maupun urusan pribadi, saya harus melakukan sesuatu untuk mendanai urusan pribadi maupun bisnis saya” dan kebetulan waktu itu teman saya menawarkan pekerjaan dan saya di terima untuk pekerjaan tersebut.


Pada tahun 2019, disini saya mulai belajar untuk menjadi mandiri dan tidak bergantung pada siapapun namun saya tidak merasakan kesulitan yang berarti selama bertransisi menjadi mandiri, karena kegagalan-kegagalan yang saya alami dari tahun 2015 sampai dengan 2018 menjadi suatu pelajaran yang sangat berharga buat saya.


Pengalaman gagal selama 3 tahun itulah yang membuat saya sangat siap untuk menjalani kehidupan yang mandiri dan saya merasakan kebahagiaan karena saya bisa lepas dari ketergantungan orang lain, dan perlahan passion saya kembali bergairah, perlahan saya juga mulai bisa mengarahkan tujuan hidup saya, perlahan saya menemukan jati diri saya.
Dan ternyata, kunci kebahagiaan saya yang selama ini terpendam adalah, pekerjaan.
Dengan pekerjaan tersebut saya mendapatkan banyak hal, belajar manajemen tim, belajar manajemen administrasi, belajar manajemen keuangan, dan juga dengan pekerjaan tersebut saya bisa memenuhi kebutuhan dasar saya tanpa bergantung pada siapapun.
Dan bahkan ide-ide saya sekarang mulai mendapatkan pencerahan agar bisa di realisasikan, dan menurut saya semua itu karena kebutuhan dasar saya bisa terpenuhi tanpa bergantung pada orang lain.

Sumber: Hipwee




Related Article


Apa Itu Luka Batin?
Sebagian dari kita pasti pernah mendengar istilah luka batin. Kitapunmenyadari situasinya , namun sulit untuk menjelaskannya dengan kata – kata. Luka batin, sebagaimana luka fisik, akan menimbul ...



Apa Itu Introvert dan Ekstrovert?
Anda pasti sering mendengar istilah introbert dan ekstrovert. Selama ini introvert sering diidentikan dengan orang yang pendiam sedangkan ekstrovert sebaliknya. Hal itu tidaklah sepenuhnya salah. Namu ...



Apakah Pobia Itu?
Sering kita dengar istilah phobia. Istilah ini sering dikaitkan dengan suatu ketakutan terhadap objek tertentu. Misal Pobia ular, Pobia anjing, Pobia cacing, dan hal lain misal ketinggian, ruang sempi ...



Gula Ditulis Garam
Suatu hari, Tarjo ingin minum kopi..namun di dapur ia tidak menemukan gula. Lalu iapun bertanya pada Marni istrinya. Tarjo: Dek, gulo kok ga ada ya? Marni: Itu mas.. dalam wadah tulisane garam Tarjo: ...



Perbedaan Senang Dan Bahagia
Seringkali kita menyamakan antar kedua emosi ini yakni senang dan bahagia. Memang sekilas keduanya sama2 emosi yang menyenangkan dan tidak ada perbedaan .. namun tahukah anda, ternyata antara senang d ...



What are the latest products

Pelatihan Hypnotic Public Speaking Solo (18 Okt 2020)
Apakah Anda Mengalami Ini Ketika Berbicara Di Depa ...


Pelatihan Hipnotis Jogja 27 April (Garansi Bisa)
Apakah Anda ingin: Mengerti tentang Hipnotis secar ...


Pelatihan Hipnotis Hipnoterapi Semarang 25 Agustus 2018 (Bergaransi)
Ingin tahu rahasia hipnotis yang disembunyikan rap ...


Pelatihan Hipnotis-Hipnoterapi Bandung (GARANSI BISA)
Jika ada Pelatihan Hipnotis & Hipnoterapi yang ...


Pelatihan Hipnotis Bekasi 30 September 2017 (Garansi Bisa)
Ingin Tahu Rahasia Hipnotis Hiburan Seperti Ditaya ...




Main service photos

 
[MAIN ARTICLE PHOTOS]
 
 
 
 







Design by ztrongmind.net@2011. All rights reserved.
Powered by Jogloweb.com