[]
 
Instiution and Science Unite
Mengatasi Tantrum (Ledakan Emosi) Pada Anak

Senin, 04 Desember 2017 20:54 WIB

Saat masih bayi, manusia menangis untuk mengkomunikasikan keinginannya. Semakin keingannya tidak terpenuhi, semakin menangis Ia. Bahkan sampai menjerit histeris yang membuat orang tua semakin kebingungan untuk mengerti apa yang bayi inginkan.

 

Tentunya bayi beranjak dewasa dan mulai bisa berbicara, sehingga mampu mengutarakan keinginannya. Namun memori akan tangis histeris saat belum bisa bicara ini masih ada. Yang terjadi kemudian adalah, anak menggabungkan dua metode yakni meminta sesuatu secara verbal menggunakan kata2 di awal meminta sesuatu, lalu kemudian menangis saat keinginannya tidak bisa dipenuhi orang tua/pengasuh, dan semakin lama semakin keras tangis dan jeritnya.

 

Hal yang wajar jika orangtua menuruti keinginan anaknya ketika tangis dan jerit semakin menjadi – jadi. Tapi di titik ini orangtua lupa mengajari satu pelajaran berharga yakni “tidak semua keinginan kamu bisa terpenuhi”. Akibat terburuk, semakin anak dewasa, Ia semakin pintar mengembangkan keterampilan menangis dan menjerit ini sehingga meluas ke tindakan2 destruktif (merusak) seperti memukul, merusak barang, bahkan kabur dari rumah saat keinginannya tak terpenuhi.

 

Bagaimana mengatasinya? Sulit memang, karena  membutuhkan kerjasama yang baik antar sesama pengasuh serta kebijaksanaan dan kesabaran tingkat tinggi (bahkan terkadang harus menyertakan sifat tega terhadap anak)

 

1. Biarkan anak menangis dan menjerit sampai tenaganya habis, sehingga tenang dengan sendirinya. Namun jika Anak sampai melakukan perbuatan destruktif (menghancurkan/merugikan) maka

 

2. Dekap, peluk erat anak sambil katakan “Bapak/ Ibu sayang kamu, maafkan Kami kalo ga bisa memenuhi permintaan kamu karena ... (isi sendiri penyebabnya)”

 

3. Buat anak memperhatikan orangtuanya mau menerima kondisi dimana harapan berlawanan dengan kenyataan. Misal " Pagi ini Ayah ingin banget makan nasi goreng, tapi adanya sop ayam.. Yasudah, Ayah syukuri dan makan Sop dengan lahap" atau "Ibu ingin keluar jalan - jalan, tapi masih banyak kerjaan rumah.. Ibu selesaikan dulu nih, baru kemudian jalan - jalan dengan nyaman"

 

Dan berbagai contoh lain, disesuaikan dengan konteks. Perlu diingat, selain cerminan anak, orangtua merupakan sekolah pertama. Dengan memperhatikan orangtuanya mampu menerima kenyataan yang berlawanan dengan harapan, anak mampu mengembangkan sikap mental menerima, yang harapannya mengurangi sampai menghilangkan ledakan emosinya tatkala keinginannya tidak bisa dipenuhi saat itu juga.




Related Article


Mengatasi Fikiran Yang Terlalu Sibuk
Seringkali, saya ketemu orang yang galau, stress, mumet, bukan karena kondisi keuangan yang buruk. Bukan karena pasangan yang tidak setia. Bukan karena tuntutan pekerjaan yang gila2an. Bukan karena ke ...



Mengatasi Pengalihan Fokus
Pernahkah Anda mengunci pintu lalu setelah melangkah beberapa detik, lupa dan ragu apakah pintu sudah dikunci atau belum..Pernahkah Anda berkenalan dengan seseorang, baru 3 detik sudah lupa namanya..P ...



Mengatasi Jenuh Di Tempat Kerja
Saat diundang sbg dosen tamu utk mengisi kuliah perhotelan beberapa waktu lalu, ada pertanyaan menarik dari mahasiswa yg kurang lebih gini "bagaimana cara menyikapi rutinitas kerja yang membosankan, s ...



Anak Gila
Seorang laki – laki berumur 25 tahun naik kereta bersama Bapaknya. Di dalam kereta, ia berjalan kesana kemari dengan penuh rasa gembira, sambil tertawa riang bahagia. Ternyata ada seorang wanita ...



P3K (Pertolongan Pertama Pada Kegalauan)
Semua orang pasti pernah ngalamin yang namanya galau.. galau sendiri kalo bagi saya adalah kondisi perasaan yang negatif dan campur aduk (cemas, sedih, gelisah, marah, kecewa, dll) sehingga mengarah p ...



 
 







Design by ztrongmind.net@2011. All rights reserved.
Powered by Jogloweb.com